
Definisi resiko secara umum
Secara umum, pengertian risiko adalah suatu keadaan yang tidak pasti dan terdapat unsur bahaya, akibat atau konsekuensi yang bisa terjadi akibat proses yang sedang berlangsung maupun kejadian yang akan datang.
Semua aktivitas individu maupun organisasi pasti mengandung risiko di dalamnya karena mengandung unsur ketidakpastian. Risiko tersebut bisa terjadi karena tidak ada atau kurangnya informasi tentang hal yang akan terjadi di masa mendatang, baik itu hal yang menguntungkan atau merugikan.
Manajemen risiko
Manajemen resiko berperan penting untuk menghindari risiko yang terjadi dalam sebuah perusahaan. Risiko diartikan sebagai akibat yang kurang menyenangkan dari suatu tindakan. Risiko menjadi kata yang tidak asing di telinga dan memiliki konotasi negatif. Contoh saja, jika kita mempunyai sebuah bisnis, namun karyawan-karyawan tidak jujur dan suka mencuri, maka ada risiko bisnis akan rugi (kejadian yang tidak menyenangkan).
Pengertian Manajemen Risiko Menurut Para Ahli
Risiko berhubungan dengan ketidakpastian, hal ini terjadi karena kurangnya informasi mengenai yang akan terjadi. Sesuatu yang tidak pasti dapat berakibat menguntungkan atau merugikan. Seperti diartikan oleh (Regan:2003) bahwa risiko ialah suatu kemungkinan yang menimbulkan atau mengesankan kerugian atau bahaya.
Didefinisikan oleh Wideman dan Mamduh (2009) bahwa risiko adalah ketidakpastian yang menimbulkan kemungkinan menguntungkan yang dikenal dengan istilah opportunity, sedangkan ketidakpastian yang menimbulkan akibat yang merugikan dikenal dengan istilah risiko (risk).
Emmaett J Vaughan dan Curtis Elliot (1978) menyebutkan, risiko diartikan sebagai kans kerugian (the chance of loss), kemungkinan kerugian (the possibility of loss), ketidakpastian (uncertainty), penyimpangan kenyataan dari hasil yang diharapkan (the dispersion of actual from expected result),probabilitas bahwa suatu hasil berbeda dari yang diharapkan (the probability of any outcome different from the expected).
Risiko diklasifikasikan menjadi dua oleh Mamduh Hanafi (2009), yaitu: risiko murni dan risiko spekulatif. Pure risks atau biasa disebut risiko murni merupakan risiko di mana kemungkinan kerugian ada tetapi kemungkinan keuntungan tidak ada. Contoh: kebakaran, kecelakaan, kebanjiran, dan lain-lain. Sedangkan risiko spekulatif merupakan risiko di mana kita mengharapkan terjadinya kerugian dan juga keuntungan.
Herman Darmawi (2006) menyatakan, manajemen risiko adalah suatu usaha untuk mengetahui, menganalisis, serta mengendalikan risiko dalam setiap kegiatan perusahaan dengan tujuan untuk memperoleh efektivitas dan efisiensi yang lebih tinggi.
Langkah-langkah penerapan prinsip manajemen risiko:
1. Mengidentifikasi resiko
Proses ini meliputi identifikasi resiko yang mungkin terjadi dalam suatu aktivitas usaha. Identifikasi resiko secara akurat dan kompleks sangatlah vital dalam manajemen resiko. Salah satu aspek penting dalam identifikasi resiko adalah mendaftar resiko yang mungkin terjadi sebanyak mungkin.
2. Menganalisa resiko
Analisa resiko dengan cara melihat seberapa besar potensi terjadinya kerusakan (severity) dan probabilitas terjadinya resiko tersebut. Penentuan probabilitas terjadinya suatu event sangatlah subjektif dan lebih berdasarkan nalar dan pengalaman. Beberapa resiko memang mudah untuk diukur, namun sangatlah sulit untuk memastikan probabilitas suatu kejadian yang sangat jarang terjadi. Sehingga, pada tahap ini sangatlah penting untuk menentukan dugaan yang terbaik supaya nantinya kita dapat memprioritaskan dengan baik dalam implementasi perencanaan manajemen resiko.
3. Monitoring resiko
Sangatlah penting untuk selalu memonitor proses dari awal mulai dari identifikasi resiko dan pengukuran resiko untuk mengetahui keefektifan respon yang telah dipilih dan untuk mengidentifikasi adanya resiko yang baru maupun berubah. Sehingga, ketika suatu resiko terjadi maka respon yang dipilih akan sesuai dan diimplementasikan secara efektif.
4. Mengevaluasi Resiko
Setelah resiko diukur tingkat kemungkinan dan dampaknya, maka disusunlah urutan prioritas resiko. Mulai dari resiko dengan tingkat resiko tertinggi, sampai dengan resiko terendah. Resiko yang tidak termasuk dalam resiko yang dapat diterima/ditoleransi merupakan resiko yang menjadi prioritas untuk segera ditangani. Setelah diketahui besarnya tingkat resiko dan prioritas resiko, maka perlu disusun peta resiko.
5. Menangani Resiko
Resiko yang tidak dapat diterima/ditoleransi segera dibuatkan rencana tindakan untuk meminimalisir kemungkinan dampak terjadinya resiko dan personel yang bertanggung jawab untuk melaksanakan rencana tindakan. Pemilihan cara menangani resiko dilakukan dengan mempertimbangkan biaya dan manfaat, yaitu biaya yang dikeluarkan untuk melaksanakan rencana tindakan lebih rendah daripada manfaat yang diperoleh dari pengurangan dampak kerugian resiko.
6. Memantau Resiko
Perubahan kondisi internal dan eksternal perusahaan menimbulkan resiko baru bagi perusahaan, mengubah tingkat kemungkinan/dampak terjadinya resiko, dan cara penanganan resikonya. Sehingga setiap resiko yang teridentifikasi masuk dalam register resiko dan peta resiko perlu dipantau perubahannya.
7. Mengkomunikasikan Resiko
Setiap tahapan kegiatan identifikasi, analisis, evaluasi, dan penanganan resiko dikomunikasikan / dilaporkan kepada pihak yang berkepentingan terhadap aktivitas bisnis yang dilakukan perusahaan untuk memastikan bahwa tujuan manajemen resiko dapat tercapai sesuai dengan keinginan pihak yang berkepentingan.
Penerapan manajemen resiko dalam bisnis fashion
Dalam Bisnis Fashion manajemen resiko dapat di petakan dengan analisa SWOT (strength, weakness, opportunity & threat)
Strength merupakan kondisi kekuatan yang terdapat dalam bidang atau konsep bisnis yang ada.
Analisis strength meliputi analisis terhadap produk, sumber daya, dan juga keuntungan yang dapat diberikan kepada konsumen,
- Produk. Seberapa kuat produk saya dapat bertahan pada persaingan pasar.dengan menganalisis kemampuan daya jual produk , manfaat yang diberikan melalui produk, dan juga bagaimana produk itu dapat berkembang.
- Sumber daya. mengetahui sumber daya yang dapat mendukung produk. sumber daya manusia, toko dan alat penunjang seperti laptop ,kamera dan alat pengelola keuangan.
- Keuntungan. apakah produk saya dapat memberikan keuntungan , atau malahan hanya akan merugikan bisnis yang dijalankan seperti rugi waktu dan tenaga.bagi konsumen kita harus menonjolkan keuntungan seperti produk yang kita jual lebih murah dan terjangkau oleh pelanggan.
kita juga harus memperhatikan tren agar produk fashion yang dijual dapat bertahan pada persaingan pasar produk fashion.
Weakness adalah kondisi kelemahan yang terdapat dalam organisasi, perusahaan atau konsep bisnis yang ada.
Kelemahan yang dianalisis merupakan keterbatasan pada bisnis . Mulai dari kerugian, daya tahan, dan juga batasan bisnis Anda.
- Modal yang kurang untuk melengkapi koleksi pakaian yang di jual, fasilitas yang belum komplit. Seperti kamera yang kurang bagus, patung model, dan sebagainya. Merupakan kelemahan yang harus di perhatikan.
- Pembukuan yang masih manual belum menggunakan aplikasi online juga merupakan kelemahan bisnis fashion .
- Adanya beberapa pesaing yang sudah terlebih dahulu berdiri juga menjadi hal yang menjadi kelemahan bisnis fashion. kita dituntut lebih inovatif dan kreatif untuk memulai bisnis yang sama.
Opportunity merupakan kondisi peluang yang berkembang di masa yang akan datang yang kemungkinan akan terjadi.
Kondisi yang terjadi merupakan peluang dari luar organisasi, perusahaan atau bisnis itu sendiri.
Misalnya kompetitor, kebijakan pemerintah, kondisi lingkungan sekitar. Contoh yang menjadi peluang bisnis fashion adalah:
- Persaingan yang masih sedikit dalam industri fashion Thrifting. Dengan jumlah pesaing yang sedikit, bisnis yang akan dimulai memiliki kesempatan yang besar untuk menguasai pasar.
- Dengan adanya kreativitas yang dilakukan, bisnis baju ini bisa menjadi sukses seperti kreatifitas dalam menjual dan memamerkan produk di marketplace
- Adanya tradisi lebaran di mana banyak masyarakat yang membeli baju saat lebaran juga bisa menjadi kesempatan untuk mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda.atau ada beberapa kecenderungan orang menginginkan baju branded namun terkendala keuangan yang pas pasan
Threats adalah merupakan kondisi yang mengancam baik yang berasal dari luar maupun dari dalam bisnis Anda.
Ancaman dapat berupa tantangan, efek luar, dan juga risiko. Salah satu analisis yang dapat dilakukan berupa :
- Ancaman tindak kriminal, huru-hara dan ancaman-ancaman lain yang berasal dari luar yang dapat mengganggu .
- risiko dalam mengelola keuangan bisnis Anda, Proses keuangan manual dalam pengembangan bisnis bisa menjadi ancaman karena risiko seperti salah hitung, estimasi, dan juga kehilangan.
- Ancaman dalam proses pendistribusian barang seperti barang hilang atau rusak di ekspedisi pengiriman
- Ancaman persaingan. Ancaman ini berupa, produk pesaing yang lebih memberikan manfaat atau bahkan melakukan kampanye yang tidak sehat dalam persaingan.
Umumnya, pada bisnis fashion ancaman yang mungkin saja terjadi adalah risiko persediaan barang dan persaingan pasar.
Segala sesuatu pasti memiliki resiko apalagi dalam bisnis resiko yang timbul menjadi salah satu hal yang harus dikelola ,oleh karena itu manajemen resiko perlu di terapkan dalam proses bisnis,walaupun resiko tidak dapat dihindari tetapi resiko dapat diminimalisir atau dikurangi efeknya ,sehingga sebuah bisnis yang baik itu adalah bisnis yang dapat di kelola resikonya,karena dalam bisnis yaitu high risk high profit,jadi pengelolaan resiko sangat penting supaya bisnis dapat berkembang dan semakin maju kedepanya.
Mungkin demikian dari saya ,semoga tulisan ini bermanfaat bari kalian yang kebetulan singgah di blog ini untuk sekedar membaca ,semoga yang ingin memulai bisnis dapat menjadi inspirasi tulisan ini dan dapat menjadi salah satu referensi dalam pengelolaan bisnis yang teman-teman jalani.terima kasih
Tinggalkan komentar